Kesampean ke Salar de Uyuni

Day 411, Km: 17.251.


Setelah 2 minggu menunggu kabar mengenai aplikasi visa Bolivia lewat konsulat Bolivia di Asuncion, akhirnya dapat kabar baik dapat surat otorisasi dari pihak Bolivia dan visa bisa diambil di perbatasan yang sudah ditentukan. Tak menunggu lama kami langsung melakukan swab test Covid-19 karena ini juga salah satu persyaratan buat masuk Bolivia, keesokan harinya saya langsung gas menuju perbatasan Bolivia di Infante Rivarola yang jaraknya 755 km dari kota Asuncion, dan saya butuh 2 hari buat sampai ke perbatasan dan perjalanan menuju kesana lumayan boring juga karena dominan area peternakan dan desa kecil belum lagi tengah hari kita bakalan berhadapan dengan cuaca panas hingga 40°C. Waktu menuju perbatasan ditemani hujan sepanjang perjalanan tapi pas sampai kantor imigrasi buat keluar Paraguay berjalan lancar tapi pas di imigrasi Bolivia, kami harus menunggu 2 jam karena mesin cetak visa lagi bermasalah, setelah visa dapat lanjut ke bagian custom untuk dibuatkan TIP (Temporary Import Permit) buat motor dan lagi-lagi listrik padam jadinya harus nunggu lagi 1 jam buat ambil solar untuk hidupin genset. Setelah semua beres dari sana saya harus riding lagi sekitar 2 jam ke kota Villa Montes yang separuh jalan tanah berlumpur. Wahh hari itu berasa panjang banget dan melelahkan.


Hari selanjutnya target saya bakalan menuju Uyuni masih sekitar 620km lagi dari Villa Montes, pagi itu saya ikutin ruta 11 tak berapa lama keluar dari Villa Montes, jalan berubah jadi tanah lagi namun sebelah kiri tebing dan kanan jurang dalam, bikin deg-degan lewatin jalur sempit ini ditambah harus menyalip atau berpapasan sama truk gede tiap 10 menit. Setelah 50 Km jalan tanah berubah jadi aspal mulus, tapi masalah berikutnya adalah banyaknya material batu dan tanah di beberapa titik karena longsoran tebing, jadinya harus extra hati-hati disini. Setelah isi bensin dan makan siang di kota Entre Rios, saya ngambil rute no 1, landscape berubah dari hutan berubah jadi savanah dan jalanpun mulai menanjak, temperatur turun perlahan. Dan 90Km kemudian saya berbelok ambil rute no.20 yang jalannya gravel, lagi-lagi banyak harpin dan tanjakan, dingin sampai 9°C, 120km saya berkendara di kondisi ini sampai matahari terbenam, saya tiba di kota Tupiza dan putuskan untuk bermalam di kota ini.


Hari berikutnya cuaca cerah banget, dan saya bakal ngambil rute no.21 yang akan membawa saya ke Uyuni yang masih berjarak 200Km, di rute ini view nya keren walau udara dingin menusuk tapi bikin betah ngelewatin pegunungan dan savanah. Sebelum masuk kota Uyuni, saya mampir ke salah satu kawasan wisata disini yaitu kuburan kereta api tua. Dulunya pada akhir abad 19 jalur kereta api ini dibangun guna mendistribusikan mineral hasil tambang ke pelabuhan Samudra Pasifik, namun pada tahun 1940-an industri pertambangan runtuh karena menipisnya mineral sehingga kereta api ini ditinggalkan begitu saja dan area ini berubah menjadi kuburan kereta api. Kalau sekarang main ke area ini berasa dalam film Mad Max.


Nah karena udah sampai di Uyuni, belum afdol kalau belum ke Salar de Uyuni yang merupakan daratan garam terluas di dunia yang luasnya 10.000Km persegi dekat dengan pegunungan Andes dan berada pada ketinggian 3.650 Mdpl. Dan dimasa pandemik saat ini jadinya cuma turis domestik yang datang, itupun tak banyak. Biasanya rame sama anak motor disini karena bulan ini adalah bulan yang bagus soalnya musim hujan selesai jadinya dataran garam jadi kering enak buat ngegas motor di atas hamparan garam ini. Memang sih lebih spektakuler kalau ada genangan air tipis tenang mengubah dataran ini menjadi cermin terbesar di dunia. Kita juga kudu hati-hati karena pantulan putih garam ini bikin mata silau jadi harus pakai kacamata hitam, dan kalau riding usahakan bisa membaca mata angin karena bisa-bisa kita nyasar di dataran garam yang super luas ini. Seperti biasa, saya narsis dulu bersama Honda Africa Twin di Monumen Dakar disini menjadi simbol bahwa Salar de Uyuni pernah menjadi rute Dakar tahun 2015 lalu. Wahh gak kerasa sudah hampir seharian penuh explore area yang spektakuler ini, dan sebelum sunset, saya ikat bendera Merah-Putih dulu di Plaza de las Banderas Uyuni disini berkibar bendera dari berbagai bangsa dan sekarang saya pasang bendera Indonesia juga berkibar di sini. Luar biasa bisa sampai turing di Bolivia karena saat ini challenge yang sesungguhnya bukan karena altitude, iklim dan kondisi jalan melainkan turing di masa pandemik yang penuh ketidakpastian pastinya menjadi tantangan tersendiri buat saya sebagai seorang biker.


Salam Adventure















You Might Also Like:
Where's Wheel Story ?

© Wheel Story Adventure, Proudly created with Wix.com