Petualangan ke Machu Picchu

Day 433, Km: 19.357.


Dari Copacabana Bolivia saya coba mau masuk ke Peru lewat perbatasan Kasani yang cuma berjarak 8 Km dari Copacabana, namun gagal masuk Peru karena belum memiliki surat ijin khusus melintas perbatasan darat dari Kemlu Peru karena sebetulnya jalur darat masih ditutup untuk turis asing buat melintas. Jadinya saya putar balik lagi ke Copacabana dan tiba-tiba baru sampai hotel saya dapat email kalau surat ijin lintas sudah selesai dibuat lewat bantuan KBRI Lima. Tapi perbatasan yang ditunjuk buat saya melintas berada di Desaguadero sekitar 220 Km dari sini. Ok ini bakalan menjadi perjalanan panjang lagi, saya putuskan buat ke perbatasan tersebut esok pagi.


Dan hari berikutnya perjalanan menuju ke perbatasan besar dimulai. Pagi itu saya riding disertai hujan disertai angin dingin, kemudian nyebrang danau Titicaca lagi naik kapal kayu lanjut ngikutin rute nomor 2 dan nomor 1. Dan sekitar 5 jam kemudian sampailah saya di perbatasan Bolivia-Peru di Desaguadero, semua dokumen diperiksa dengan detail sama petugas, untuk orang Indonesia bebas visa masuk Peru namun permasalahan baru muncul karena belum punya sertifikat test PCR negative Covid-19, awalnya saya mengira bisa test di border, namun disini tidak punya klinik buat test jadinya saya putar balik lagi ke arah La Paz sekitar 120 Km dan perjalanan menuju sana sempat diguyur hujan es di pertengahan jalan. Hari berikutnya saya cari Klinik untuk test PCR Covid-19. Dan setelah di test kembali saya riding ke border. Pas lagi duduk ngopi di warung dekat border, tiba-tiba terima Whatsapp dari klinik mengirim hasil test negative Covid-19, wuih senang banget rasanya dan saya pun langsung tancap gas ke perbatasan Peru. Kali ini dokumen dan persyaratan diterima dengan baik, namun kembali harus rapid test dari pihak imigrasi Peru yang sudah disiapin di gedung Imigrasi disini. Proses rapid test, imigrasi cek dan custom sampai memakan waktu 5 jam, sampai hari sudah malam dan dingin. Lumayan capek juga hari ini tapi kabar baiknya saya berhasil masuk Peru.


Hari selanjutnya saya langsung gas ke arah Puno buat melihat kehidupan suku Uru atau Uros yang tinggal mengapung di atas tumpukan jerami dari tumbuhan endemik Totora di danau Titicaca ini yang menjadi danau tertinggi di dunia dengan ketinggian 3.821 mdpl, luar biasa bisa merasakan langsung kehidupan di Uros floating village ini. Tapi tempat lainya sudah menunggu kehadiran saya, perjalanan saya lanjutkan ke arah Cusco dengan melewati area pegunungan Andes yang keren banget dan perjalanan saya berakhir di kota kecil Ollantaytambo sekitar 60 Km ke arah barat Cusco. Dari kota ini saya bakalan pindah naik kereta api menuju desa kecil Aguas Calientes sebagai desa terakhir. Masih ada 9 Km lagi buat menuju pintu gerbang Machu Picchu cuma saya pilih naik bus pariwisata aja karena kalau jalan kaki lumayan berat juga ngikutin jalanan dengan tanjakan extreme. kendaraan pribadi tidak diijinkan masuk sampai kesini sama pihak pengelola. Dan disaat Pandemik ini pengunjung buat ke Machu Picchu dibatasin dengan slot waktu yang sudah ditentukan jadinya bakalan gak banyak orang disana nanti. Dan benar saja kawasan Machu Picchu lumayan sepi nih sayangnya masih tertutup kabut tebal. Tapi setelah sejam berlalu kabut pun mulai menghilang, rasa lelah menaiki ratusan anak tangga terbayar sudah, penampakan kota Inca yang hilang mulai tampak jelas di depan mata saya. Salah satu bucket list ku tercapai juga. Amazing banget bisa menginjakan kaki di Machu Picchu salah satu dari 7 keajaiban dunia.


Machu Picchu merupakan simbol kerajaan Inca yang paling terkenal, dibangun sekitar tahun 1450, namun sekitar tahun 1550 daerah ini ditinggalkan pergi sama penghuninya setelah bangsa Spanyol berhasil menaklukan kerajaan Inka, pada tahun 1911 situs ini ditemukan kembali oleh arkelolog asal Amerika Serikat Hiram Bingham dan sejak saat itu Machu Picchu menjadi objek wisata yang mendunia. Saya habisin waktu kira-kira 4 jam berkeliling bangunan Inca kuno ini yang sebagian besar terbuat dari batu yang rapi dan situs ini telah ditunjuk sebagai situs warisan dunia UNESCO sejak tahun 1983. Okay waktunya balik ke Ollantaytambo buat jemput si Rumba a.k.a Honda Africa Twin dan tak jauh dari sana saya mampir dulu ke Salinas de Maras, area tambak garam yang sudah digunakan sejak jaman Inka. Nah uniknya garam ini berasal dari mata air yang mengandung garam dan mengalir ke lembah dan mengisi petak-petak garam selanjutnya terevaporasi sehingga meninggalkan kristal-kristal garam. Wahh unik juga ya tempat ini bisa ada garam walau berada pada ketinggian 3000 mdpl.


Riding disekitaran pegunungan Andes mulai dari Bolivia sampai Peru ini memang menyimpan ragam cerita dan budaya serta sejarah yang unik dan menarik buat disimak. Salah satunya Machu Picchu kota Inka yang hilang. dari sini petualanganku bakalan lanjut mengarah ke pesisir laut Pasifik.


Salam Adventure.















You Might Also Like: