Rame Honda Africa Twin di Paraguay

Day 397, Km: 15.537


Setelah dari Iguazu Falls, saya akhirnya kembali ke kota Posadas karena sesuai info yang saya dapat kalau border disini buka untuk orang asing yang mau ke Paraguay. Dan disini saya melakukan Swab PCR test covid-19 di sebuah klinik swasta karena salah satu persyaratan buat ke Paraguay harus memiliki hasil PCR test negatif covid-19. Saya lanjut nginap semalam lagi di Posadas karena harus menunggu hasil PCR test 8-10 jam setelah test. Agak deg-degan sih jadinya tapi mudah-mudahan hasilnya negatif.


Keesokan harinya setelah sarapan saya langsung bergegas ke klinik buat ngambil hasil test dan hasilnya negatif, selanjutnya langsung gas ke border yang cuma berjarak 3 km. Nah sebelum masuk saya distop militer lalu mereka hubungi imigrasi guna memastikan kita boleh masuk atau tidak. Dan setelah paspor dipegang imigrasi dan dicek semua data, kami pun menunggu sampai 2 jam tapi tak kunjung ada jawaban. Kalau tidak bisa lewat maka siap-siap akan tertahan lama lagi di Argentina. Setelah ditanya petugas imigrasi, ternyata pihak imigrasi Argentina menghubungi pihak imigrasi Paraguay untuk mengkonfirmasi apakah kami boleh masuk ke negaranya dan jawabanya ‘ya’. Rasa bahagia bercampur sedih karena harus meninggalkan Argentina setelah tinggal setahun di sini tapi perjalanan harus dilanjutkan. Langkah selanjutnya saya melapor ke Aduana atau custom buat balikin TIP (temporary import permit) motor saya dan semuanya berjalan lancar. Langsung gas menuju Paraguay lewat jembatan perbatasan dan di Imigrasi Paraguay sendiri proses cepat gak makan waktu lama karena kami sudah memiliki visa Paraguay yang didapat dari Embassy Paraguay di Buenos Aires. Selamat datang di Paraguay dan kota pertama yang disinggahi adalah Encarnacion dan saya pun menikmati sunset pertama dari playa atau pantai (walaupun pinggir sungai bukan laut).


Dari Encarnacion saya siap riding menuju Asuncion ibu kota negara lewat rute no 8. Landscape di sini datar gak kelihatan gunung dan umumnya ladang pertanian dan peternakan tapi berhubung lagi musim panas, tengah hari bisa sampai 40 °C, gerah benar. Untungnya banyak warung selama perjalanan sejauh 390Km.

Dan disini juga populasi motor lebih banyak dari Argentina belum lagi bahasa Spanyol yang dialegnya beda sama negara sebelah dicampur bahasa Guarani jadinya makin bingung kalau ngobrol sama orang sini, akhirnya google translate beraksi. 7 jam kemudian sampailah saya di Asuncion dengan lalu lintas yang padat dan semraut. Tapi kondisi ini masih bisa ditangani karena lalu lintas Jakarta pastinya lebih padat. Jadi buat anak motor kaya saya pasti sudah terbiasa nyelip-nyelip kayak gini.


Nah di kota ini ternyata ada dealer Honda yang gede dan komplit juga jadi saya langsung hubungin buat booking servis rutin Honda Africa Twin tunggangan saya dan langsung dapat slot buat hari berikunya. Dan keesokan harinya dari jam 9 pagi saya udah meluncur ke dealer dan daftarin CRF1000L saya buat diservice. Petugasnya ramah dan langsung arahkan buat masuk ke area service dan sudah ada mekanik disana. Langsung Africa Twin di telanjangin buat service rutin nih. Motornya gak ada masalah, cuman sudah waktunya ganti kampas rem depan dan belakang lalu ganti busi dan bersihin filter udara trus kuras tangki bbm. Lalu ganti oli dan filter oli. Motornya gak nginap, sore itu udah bisa diambil. Manager Dealer Honda Diesa ini mengetahui kalau ada motor dari Indonesia yang lagi di service, karena penasaran beliau langsung ketemu saya, sambil nanya-nanya petualangan yang saya lakukan di Amerika ini. Ternyata motornya juga Africa Twin dan warna nya samaan sama juga merah putih hitam.


Malam itu beliau mengarahkan pengguna Honda Africa Twin buat ngajak kopdar bareng karena ada Africa Twin yang datang dari Indonesia. Dan sekitar jam 8 malam area parkir dealer sudah dipenuhi belasan Honda Africa Twin dengan berbagai warna dan tahun juga. Mereka datang berkumpul sebagai apresiasi kedatangan biker dari jauh. Dan ingin mendengar kisah saya dan Honda Africa Twin saya bisa sampai di Paraguay. Lanjut saya diajak rolling thunder keliling Asuncion malam itu yang lumayan sejuk dibandingin siang hari yang gerah. Lalu penutupnya saya diajak makan malam bareng buat nyobain makanan tradisional disini yaitu sopa sejenis soup namun seperti bolu dari jagung dan keju. Luar biasa memang biker Paraguay yang antusias buat ketemu dan mendengar cerita petualangan saya di Benua Amerika yang dalam kondisi sulit dan dimasa yang penuh ketidak pastian ini karena pandemik tapi tetap menjalankan passion dan tetap ikutin protokol kesehatan pastinya challenge banget buat sampai garis finish. Dan malam itu kami hanya bisa ngumpul sampai jam 11 malam karena ada peraturan jam malam di Asuncion.


Salam Adventure.
















You Might Also Like:
Where's Wheel Story ?

© Wheel Story Adventure, Proudly created with Wix.com