Riding ke Death Road Bolivia

Day 420, Km: 18.240.


Setelah menikmati Salar de Uyuni ladang garam yang super luas ini, waktunya melanjutkan petualangan bersama Honda Africa Twin. Lanjut riding ke arah utara mengikuti rute nomor 1 sejauh 550 Km ke kota La Paz tapi bukan disini tujuan saya untuk saat ini. Saya terus melaju ngikutin rute nomor 3 sejauh 100 Km lewati pegunungan Andes yang super dingin lalu jalanan mulai menurun dari 4500-an mdpl turun sampai sekitar 2000-an mdpl, dari savanah tiba-tiba menjadi hutan tropis yang hijau dibalik kabut tebal. Udara mulai terasa hangat dan lembab, dan saya bakalan nginap di kota kecil Coroico.


Alasan saya datang ke sini buat mencicipi salah satu jalan paling berbahaya di dunia ‘Bolivia’s Death Road’ atau ‘Carretera de la Muerte’ di daerah Yungas dan kota Coroico ini menjadi pintu gerbang menuju Death Road. Jadi saya simpan tenaga dulu dengan istirahat semalam disini. Dan pagipun tiba, Kabut menutupi pandangan, pegunungan tidak nampak dan ini pertanda bahaya buat riding ke Death Road saat cuaca kayak gini. Saya Cuma bisa menunggu sampai kabut pun mulai hilang 1 jam kemudian. Saatnya gas ke Death Road. Dibilang ‘Jalur Kematian’ ini karena hampir setiap tahun jalur sepanjang 60 Km ini selalu memakan korban, lebarnya cuma pas satu badan truk dan jalur sempit, licin dan tidak diaspal ini tidak ada pagar pembatas dan langsung berhadapan dengan jurang dalam pada sisi kanan jalan salah dikit bisa game over. Sebelum adanya jalan raya dengan aspal mulus di rute 3, Jalan Yungas ini menjadi satu-satunya penghubung kota-kota di bagian timur Andes ini dengan mega city La Paz. Dan sekarang jalur Death Road ini menjadi populer di kalangan travelling salah satunya pemotor seperti saya.


Cuaca cerah pagi itu membantu saya melihat jelas setiap sudut di jalur ini, tidak ada masalah dan saya satu-satunya kendaraan yang lewat pagi itu, namun separuh perjalanan tiba-tiba longsoran bebatuan menutupi jalan. Saya berhenti dan jalan kaki melihat situasi dan ternyata sekitar 100 meter di depan dengan medan jalan terjal masih ada longsoran lagi. Sangat beresiko kalau dipaksa lewat, tidak ada masyarakat sekitar sini hanya hutan dan jurang dalam, juga ada beberapa tanda salib mengingatkan tempat dimana pernah memakan korban disini. Kabut mulai turun menutup pandangan. Tidak ada pilihan kecuali putar balik dan kembali ke rute 3 lagi. Tapi gak apa saya cari aman aja yang penting sudah merasakan pengalaman berkendara di Death Road Bolivia ini. Dan benar saya setelah memutar rute 3 yang udah basah dan dingin karena hujan, saya coba intip ujung jalur Death Road dan benar saja semua sudah tidak tampak karena tertutup kabut tebal. Kata orang sana kalau kabut turun tidak direkomendasi buat riding ke Death Road karena akan sangat berbahaya dan penuh resiko di tambah kondisi hujan dan gelap jadi bikin merinding.


Dan saya pun riding balik ke ibu kota Bolivia, La Paz yang menjadi ibu kota tertinggi di dunia, dengan ketinggian antara 3800 mdpl sampai 4500 mdpl. Jalan kaki dikit aja langsung ngos-ngosan karena oksigen tipis disini. Saya tinggal beberapa hari di kota La Paz ini, termasuk riding ke Valley of the moon buat nikmati menara-menara bebatuan dan tanah yang unik karena terkikis air hujan, saya juga naik cable car sambil nikmatin pemandangan kota yang indah ini. Lalu saya lanjutkan perjalanan ke Copacabana sebuat kota kecil sekitar 150 km ke arah barat dari kota La Paz tepat berada di pinggir danau Titicaca yang indah. Kebetulan Copacabana gak jauh dari perbatasan Peru jadi saya bakalan coba masuk ke Peru dari sini.


Salam Adventure.















You Might Also Like: